Game Redeem Code FF dan Realitas Ketahanan Keluarga

Keluargapedia.com – Hari ini ada yang membuat gamers kegirangan. Apalagi kalau bukan karena akun Instagram Free Fire Indonesia yang berbagi secara cuma cuma kode redeem FF bonus FF9MA3VCZDWC. Tetapi, di tengah sukaria anak anak Indonesia yang sudah terbiasa memainkan game ini, bisa jadi tidak sedikit orangtua yang justru sedang memendam kekhawatiran.

Sebagaimana Free Fire, beragam pilihan game daring di Indonesia memang sedang menjadi pusat perhatian. Di waktu yang sama, keluarga Indonesia pengguna internet juga meningkat pesat dari sebelumnya. Data teranyar, dominan pengguna internet adalah anak anak muda antara 18 hingga 35 tahun.

Dalam penelitian HootSuite dan WeAreSocial, disebutkan pengguna internet tahun 2021 ini mencapai 202,6 juta jiwa, atau meningkat 15,5 persen atau 27 juta jiwa jika dibandingkan pada Januari 2020.

Tak dapat disangkal, game online dengan segala fitur dan keandalannya yang dimaksudkan sebagai hiburan di sela sela waktu lowong, ia tetap menyisakan kekhawatiran terutama bagi orangtua. Realitas ini bahkan sudah menjadi rahasia umum.anak maingame

Bermain permainan online tentu saja hak siapa saja dan tak ada masalah apabila dalam penggunaan dengan batas tertentu. Namun ia akan menjadi problem sangat serius tatkala penggunanya sangat ketergantungan, hingga, pada level tentu, ia dikendalikan oleh permainan itu sendiri. Bukan dirinya yang mengendalikan hiburan, yang, sebetulnya, itu ilusi semata.

Disinilah, saya kira, ketahanan keluarga diuji. Dan, sayangnya, ujiannya tidak ringan. Orangtua, terutama yang awam dunia digital dan teknologi informasi, akan menghadapi masalah yang sukar sekali ia cerna. Ia mungkin tak mampu memahami realita ada anak yang berbicara tanpa melihat lawan bicaranya dan tetap fokus pada layar gadgetnya.

Baca Juga :   Memahami Fitrah Anak dan Hal yang Mempengaruhinya

Pada level kecanduan akut tertentu, ada yang bahkan sampai mengamuk tidak jelas, bahkan, nekat menghancurkan apapun ada di sekelilingnya hanya karena gadgenya tiba tiba berhenti load. Kondisi seperti ini gampang ditemukan di sekitar kita.

Kita sebagai orangtua mesti bangun dan membaca kondisi ini. Ia tak dapat ditolak, karena inilah realitas baru hari ini. Bukan berarti kita akhirnya menyerah dan menerima semua apa adanya. Bukan begitu. Maksud saya, kita perlu bangkit mencermati fenomena ini dan kemudian dari sana kita melakukan sesuatu untuk membendung kultur ini agar tak menjadi “endemik”.

Kita, tentu saja, tidak sedang menyalahkan para pengembang aplikasi permainan online itu. Yang harus disalahkan adalah diri kita sebagai orangtua mengapa kita terlambat menyadari ini dan mengantisipasinya. Pada akhirnya, kita harus membangun gerakan kolektif untuk sebuah visi baru anak anak negeri.

Okelah. Anak anak pecandu game online itu mungkin bukan anak kita. Namun, boleh jadi, ia juga akan menerkam anak anak kita apabila kita tidak segera, sekali lagi, siuman dari ketidaksadaran kita akan gempuran penjajahan gaya baru ini. (ybh/kpd)

Recommended For You

About the Author: Ain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen + 5 =