crossorigin="anonymous"> Pentingnya Ilmu Qabla Nikah
Relationship

Pentingnya Ilmu Qabla Nikah

By: Khairul Hibri

Dua buah hati (laki dan perempuan) tengah menjadi perbincangan publik, khusuanya di dunia maya. Betapa tidak. Kakak-beradik ini sama-sama  tengah menjalin hubungan serius dengan pasangan lawan jenis yang berbeda agama.

Kakak-beradik itu beragama Islam. Keluarga besar pun demikian. Tapi bakal pasangan keduanya sama-sama non-muslim.  Di luar kedua pesohor muda tanah air ini. Di Indonesia sendiri sudah menjadi rahasia umum ada beberapa oknum masyarakat yang memilih menikah dengan pasangan yang berbeda agama. Bahkan, belakangan, menggema  isu pernikahan sesama jenis, bakda tampilnya pasangan gay di sebuah podcast ternama di Indonesia.

Pedoman Nikah

Nikah dalam Islam bukan semata sebagai wasilah penyaluran syahwat hewani yang memang melekat dalam diri manusia. Kalau hanya ini yang menjadi tujuannya, maka status hubungan intim yang dilakukan oleh anak manusia tidak ada bedanya dengan apa yang dikerjakan binatang. Sekedar melampiaskan nafsu birahi semata.

Lebih dari itu, Islam memposisikan nikah pada derajat yang sangat mulia. Yaitu ibadah. Penuh dengan nuansa sakralitas. Yang artinya, terdapat panduan-panduan khusus dalam pelaksanaannya, baik itu bersifat wajib maupun ‘sekedar himbauan’ demi memperoleh kemuliaan dalam prosesi pelaksanaan nikah, hingga berlanjut dalam mengarungi mahligai rumah tangga.

Dengan status demikian, menjadi keniscayaan untuk mengilmui/mempelajari tentang  dunia nikah ini. Sebab kalau tidak, akan salah langkah. Akhirnya harapan untuk menjadikan keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah jauh panggang dari api.

Umpama, kasus-kasus yang dibeberkan pada awal rulisan ini. Tidak akan pernah terjadi pernikahan nan penuh nista itu (antar sesama jenis dan berbeda agama), bila mana telah mengilmui dan meyakini jwbenaran Islam, tentang bagaimana mencari pasangan yang benar.

Cantik. Gantwng. Rupawan. Sungguh Islam sangat akomodatif. Dipersilakan bagi kaum muslimin mencari pasangan sesuai selera. Karena itu ada syariat nazhar (melihat wajah) bagi laki-laki kepada bakal istri untuk memantapkan dan meyakinkan diri mempersunting. Tidak ada was-was.

Namun, ada warning dari agama kita. Bila hal ini yang dijadikan standar utama, maka bisa menjadi langkah awal untuk masuk ke dalam rumah tangga yang penuh huru-hara yang tak berkesudahan.

Cukup lah kita berkaca kepada beberapa publik figur di negeri ini. Tak kurang rupawan pasangan yang mereka miliki. Tak sedikit harta benda yang telah di tangan. Tapi ternyata rumah tangga mereka tak jua bisa diselamatkan dari karam. Padahal belum juga jauh bahtera berlayar.

Sabda Rasulullah SAW; “Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka dan janganlah pula menikahi wanita karena harta-harta mereka, karena bisa jadi hartanya menjadikan mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya, seorang wanita budak berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama dari mereka.” (HR Ibnu Majah).

Misi Utama Pernikahan

Agama menjadi landasan utama dalam menikah, sebab misi utama dalam pernikahan yaitu menyelamatkan seluruh anggota keluarga dsri jilatan api neraka.

Firman Allah; “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (AtTahrim: 6)

Sungguh akan terseok-seok langkah. Bahkan bukan mustahil menyimpang dari visi besar ini, bilamana agama tak menjadi landasan dalam menikah. Maka,kudu lah agama ini diilmui. Dipelajari. Sehingga perjalanan semakin jelas. Selaras. Sebagaimana serasi perjalanan Ibrohim dengan Hajar atau Nabi Muhammad SAW dengan ibunda Khadijah.

Satu sama lain saling mendukung dan menguatkan dalam ketundukkan dan ketaatan kepada Allah. Pernikahan yang didasari ilmu dan amal inilah yang akan menuai apa yang disebut sakinah, mawaddah, warahmah.

“Allah merahmati seorang lelaki yang bangun pada malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya. Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya.” (HR. Abu Daud).

Hadits di atas baru menggambaran kemuliaan satu amal kebaikan yang dilakukan pasangan suami istri yang
hidup dalam naungan ketaatan atas agama. Lalu bagaimana dengan amalan yang lain? Untuk mengetahui itu semua, ilmu sangat dibutuhkan.

Jadi; ayo pedalami ilmu qobla nikah.

Related Articles

Back to top button