More
    BerandaRelationshipNikah, Kenapa Takut?

    Nikah, Kenapa Takut?

    “MAU diberi makan apa istri dan anak-anak saya nanti. Lha, wong gaji saja tidak seberapa”.

    Materi. Itulah yang acap menjadi penghalang para kaum pria memberlangsungkan pernikahan. Benaknya dipenuhi ketakutan dengan hal-hal yang berunsur materialistik.

    Sepintas, nampak bijaksana. Qaul pembuka tulisan ini yang sering dijadikan tameng, seakan-akan menunjukkan akan jati diri yang bertanggungjawab terhadap keluarga. Karena itu, lebih memilih untuk menunda menikah, ketimbang keluarga tidak terpenuhi kebutuhannya,terutama soal materi.

    Pertanyaan kritisnya; apa benar ada jaminan dengan menunda menikah maka berarti akan mampu mengumpulkan pundi-pundi? Misteri juga, kan? Sama misterinya dengan ketakutan yang dibangun di atas tentang ketidakmampuan memberi nafkah untuk keluarga?

    Jaminan Rizki dari Allah

    Lebih dalam lagi, bila kita telisik dalil-dalil terkait dengan rizki, bukan mustahil ketakutan semisal di atas diakibatkan oleh rendahnya kualitas iman, sehingga gampang mengikuti bisikan setan yang senantiasa menghembuskan akan kemelaratan.

    Firman Allah; “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah/2: 268]

    Menjelaskan ayat ini, dalam tafsirnya Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW, bahwa dalam diri manusia itu senantiasa terdapat dua dorongan. Pertama; menganjurkan kepada kejahatan dan pengikaran terhadap yang hak. Yang kedua; dorongan malaikat untuk melakukan kebaikan dan percaya kepada yang hak.

    Perkara tersebut terakhir, merupakan anugerah dsri Allah. Maka barang siapa yang mendapati dirinya condong terhadap hal ini,patutlah bersyukur dan memuji Allah.

    Adapun bila mendapati diri dalam keadaan sebaliknya, hendaklah berlindung kepada Allah.

    Yakin Janji Allah

    Seorang beriman pastilah tahu, bahwa janji-janji Allah merupakan suatu yang hak. Allah sebagai Dzat pemberi rizki itu pula hak. Lalu mengapa kita ragukan. Bukan ini artinya telah terjadi degradasi iman dalam diri?

    Allahu akbar. Sungguh Allah Maha menģetahui akan segala kelemahan hamba-hamba-Nya. Termasuk prihal ketakutan akan rizki ketika hendak memberlangsungkan pernikahan.

    Maka tengoklah apa yang dijanjikan Allah terhadap mereka ini dalam surat an-Nuur ayat 32;

    “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

    Senada dengan ayat di atas, Rasulullah SAW pun pernah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Nasya’i, bahwa ada tiga golongan yang mendapat jaminan akan pertolongan dari Allah. Satu di antaranya adalah; Seorang yang menilah karena ingin menjaga kesucian diri.

    Mengomentari ayat al-Qur’an di atas, sahabat Ibnu Mas’ud dan Umar bin Khathab, pernah bertuah; “Carilah kaya (berkecukupan) dengan menikah.”

    Sikap orang beriman kudulah mempercayai apa-apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Meski orang-orang di sekitarnya meragukan. Tampillah laksana Abu Bakr yang mempercayai kisah Nabi yang ber-isra’-mi’raj, tanpa ragu sedikitpun. Padahal orang-orang disekitarnya mendustakan. Bahkan dengan mantap beliau berkata;

    “Selama yang menyampaikan perkara itu Nabi Muhammad SAW. Terhadap urusan yang lebih dahsyat dsri isra’-mi’raj, aku akan mempercayainya.”

    Buah dari kepercayaan nanti murni inilah, beliau kemudian dikenal sebagai ash-Shiddiq.

    Pupuk Selalu

    Iman terhadap janji dan rosul-Nya inilah yang harus kita pupuk. Sehingga tumbuh keberanian untuk melangkah,menyempurnakan keimanan dengan menikah. Sungguh di balik menikah, banyak sekali kebaikan yang akan diperoleh. Salah satunya menjaga kesucian diri dari kemaksiatan dan keburukan syahwat. Dan inilah yang paling dikhawatirkan oleh syetan.

    Lagian, jangankan kita, manusia yang notabene makhluk terbaik ciptaan Allah. Hatta hewan melata pun tak terlepas rizki-Nya dalam genggaman Allah.

    Cicak yang merayap, masih bisa menyantap nyamuk dan sejenisnya yang menjadi makanan utamanya. Padahal binatang-binatang itu berterbangan.

    Sedangkan cicak hanya bisa merayap. Tapi ternyata, juga masih bisa makan juga. Itu kalau sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

    Maka apalagi manusia yang memiliki otak pikiran. Sudah pasti lebih layak untuk memenuhi kebutuhan diri. Bahkan, jauh lebih dari itu.

    Titik tekannya, maukah bekerja dan berusaha. Karena di situlah kata kuncinya. Keberkahan pun akan turun melalui usaha-usaha yang dilakukan. Ada gerakan nyata, untuk menjemput rizki Allah itu.

    Bekerja

    Laksana kata Umar bin Khatthab; “Bekerjalah, karena sesungguhnya langit tidak akan pernah menurunkan emas maupun perak.”

    Terkait dengan kemuliaan seorang (suami) yang bekerja untuk mencukupi kehidupan keluarga. Rasulullah SAW pernah bersabda;

    “Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah pada sore hari tersebut.” (HR Imam Tabrani)

    Bukankah salah satu cita-cita besar seorang beriman, mendapat ampunan dari Allah SWT?

    Mencari nafkah untuk keluarga bisa menjadi wasilahnya. Jadi, mengapa harus takut menikah, wahai para jomblo yang sudah layak menikah?*

    By: Khairul Hibri

    Must Read

    spot_img