crossorigin="anonymous"> Kisah Seorang Tukang Bangunan Dan Cinta Tulusnya
KisahOrangtua

Kisah Seorang Tukang Bangunan dan Cinta Tulusnya

CINTA memang indah. Kala bertengger pada hati seseorang maka energi besar akan hadir dalam jiwanya. Bak ombak di lautan, ia selalu ada menyapa pantai. Seperti cinta Bapak Misran. Pria yang tak lagi muda itu memiliki dua cinta dalam hidup. Cinta pada bangunan dan cinta pada istri.

“Cinta pertama saya memang kepada bangunan,” ungkapnya kepada saya kala sarapan bersama di sebuah pondok pesantren yang cukup terkenal di Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur, sembari rintik hujan terus menari.

Kami pun yang mendengar; sekitar 4 orang tertawa lebar mendengar ungkapan Bapak Misran itu. Terlebih beliau menuturkannya dengan mimik wajah serius namun tampak sangat lucu bagi kami.

Akan tetapi, ungkapan itu terbilang wajar untuk seorang Bapak Misran. Pasalnya sejak awal ia memang tukang bangunan yang menjadi tugas yang terus melekat sampai sekarang.

Makna Cinta

Namun Bapak Misran segera melanjutkan ungkapannya. Bahwa cinta pada bangunan itu ada maknanya.

“Apa maksudnya, cinta pertama kok sama bangunan? Tidak lain adalah dalam mengemban amanah dan menjalankan amanah kita harus mencintai amanah itu atau pekerjaan itu. Jadi, saya 24 jam, terus berpikir bagaimana bangunan yang saya garap bagus, kuat dan indah,” imbuhnya disambut suara ‘oooh’ dari semua pemirsa yang mengitari Bapak Misran.

Ungkapan itu mengingatkanku akan sebuah ungkapan penting tentang pekerjaan.

Yakni, “Rekreasi terbaik adalah bekerja.”

Dalam konteks ini Bapak Misran patut jadi panutan. Bagaimana ia mencintai pekerjaan dan senang dalam bekerja.

“Kalau tidak kita cintai, bagaimana kita mau menuntaskan pekerjaan dengan baik. Pekerjaan saya bangunan, ya, saya mencintai bangunan,” tegasnya yang kembali mengundang tawa seluruh pendengar yang selalu tak sabar ingin mendengar kisah dari Bapak Misran.

Cinta Kepada Istri

Meski cinta pertama Bapak Misran kepada bangunan bukan berarti ia tak berkeluarga. Ia tetap memiliki istri bahkan mencintai istrinya.

“Saya juga manusia loh, ya. Jadi jangan kira saya tidak punya istri. Sekarang saya hidup dengan istri kedua. Istri pertama telah Allah panggil,” ucapnya dengan raut wajah mulai datar dan mata menerawang jauh.

Tersirat melalui tatapannya, Bapak Misran teringat almarhumah. Ia diam sejenak, menarik nafas panjang. Lalu berucap, “Alhamdulillah.”

“Tapi cinta saya tak sekuat kalian yang masih muda,” ucapnya yang kembali mengguncang perut pemirsa.

Melalui ungkapan itu Bapak Misran ingin kami yang muda sadar bahwa istri adalah anugerah Allah. Cintailah sepenuh hati. Cintailah karena Allah.

“Saya tidak pandai bicara, ya. Tapi cintailah istri kalian karena Allah,” tegasnya memberi pesan.

Dari peristiwa ringan ini saya menemukan hikmah, mengapa anak muda harus hormat kepada orangtua. Mereka mungkin tak sebaik anak muda dalam hal pendidikan. Tetapi jangan ragukan soal ilmu, pengalaman dan kebijaksanaan.

Terimakasih Bapak Misran. Engkau berkenan bercerita ringan kepada kami semua sembari sarapan. Barokallahu fikum, Bapak Misran.*

Mas Imam Nawawi

Back to top button