crossorigin="anonymous"> Kenalkan Anak Hal-Hal Substansi
Parenting

Kenalkan Anak Hal-Hal Substansi

Suatu hari seorang anak katakan Ifah menangis sedih. Hal itu karena orangtuanya membawakan makanan tradisional yang menurut Ifat teman-temannya tidak akan menyukai.

Namun dengan sabar dan tenang sang ibu memberikan nasihat kepada Ifah.

“Sekolah meminta Ifah untuk membawa makanan tradisional. Benar ya?” tanya sang ibu sembari mengangkat sebungkus karedok. Ifah hanya mengangguk.

“Nah, ini makanan tradisional, khas orang Sunda,” imbuh sang ibu.

Ifah masih belum memahami maksud ibunya. “Iya, tapi itu teman-teman tidak suka,” katanya lagi.

Ingatkan Sejarah

Sang ibu mulai ambil jurus lebih tinggi.

“Ifah tahu kisah kenapa Iblis dikutuk oleh Allah. Adalah karena ia tidak menjalankan perintah Allah sujud kepada Nabi Adam,” ungkapnya sembari memegang kedua bahu putrinya itu.

“Jadi, kalau sekolah memerintahkan Ifah membawa makanan tradisional, maka Ifah harus patuh. Bawakan makanan ini. Soal teman-temanmu tidak menyukai, ibu kira tidak akan semua. Jadi, jangan sampai karena takut teman tidak suka, Ifah tidak mematuhi perintah dari sekolah. Itu malah salah,” urainya lebih dalam.

Ifah mulai menatap wajah ibunya.

“Nah, begitu. Jadi apa perintah sekolah kamu usahakan dulu. Kalau yang kamu bawa tidak bagus menurut temanmu, kamu harus tahu, bahwa setiap orang punya kesukaan masing-masing dalam hal makanan,” sambung sang ibu.

Ifah pun mulai bisa tersenyum dan memeluk sang ibu. Ia pun segera mengambil karedok buatan sang ibu ke sekolah dengan langkah penuh percaya diri.

Hikmah

Persitiwa di atas adalah kejadian nyata. Dan, dari hal itu kita bisa belajar bahwa terkadang anak-anak kita tidak mengerti hal substansi.

Mereka terlalu larut dalam pergaulan, sehingga tidak bisa membedakan mana substansi mana bukan.

Ketika sekolah memerintahkan anak membawa makanan tradisional, maka orangtua harus membantu bahwa membawa makanan tradisional itu substansi.

Mengenai bagaimana respon temannya yang pasti akan ada yang suka dan tidak, jangan menjadi satu hambatan yang menjadikan hati kacau dan pikiran ragu.

Penerapan cara berpikir seperti itu harus mulai anak-anak kita kenal, sehingga mereka tumbuh jadi manusia yang memiliki prinsip, tidak terseret tren dan pergaulan yang seringkali destruktif.*

Mas Imam Nawawi

Back to top button