crossorigin="anonymous"> Istri Yang Bersyukur Bisa Cegah Perceraian Dan Selamat Dari Kekufuran
Wanita

Istri yang Bersyukur Bisa Cegah Perceraian dan Selamat dari Kekufuran

Oleh: Sarah Zakiyah (Seorang Pendidik dan Penulis tinggal di Depok)

Angka perceraian menurut data di Pengadilan Agama seluruh Indonesia yang diambil dari situs https://m.hukumonline.com mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Menurut Kepala Seksi I Bimbingan pada Badan Peradilan Agama MA, Hermansyah Hasyim yang dikutip dari situs di atas, angka putusan cerai gugat selalu lebih tinggai dibanding cerai talak oleh suami, nyaris berada pada kisaran 60-70 persen dari jumlah perkara yang masuk.

Ada dua persoalan besar yang menjadi penyebab dalam gugatan perceraian, yakni persoalan ekonomi dan perselisihan yang tidak berkesudahan.

Paragraf pembuka bahasan kita kali ini menjadi sebuah bahan untuk introspeksi diri. Mengapa gugatan cerai istri lebih mendominasi angka perceraian dibanding cerai talak oleh suami, dan mengapa faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab terbesar.

Kehidupan rumah tangga bagi muslim muslimah adalah ibadah sepanjang usia pernikahan.

Hakikat ibadah dalam rumah tangga ini seringkali terabaikan. Akibatnya, banyak pasangan suami istri tidak mampu bertahan ketika guncangan melanda bahtera rumah tangga mereka.

Faktor-Faktor Utama

Faktor-faktor penyebab keretakan rumah tangga yang awalnya adalah ujian bagi ibadah mereka dalam mencari jalan keluar dan melanggengkan pernikahan, justru makin membuat mereka semakin menyalahkan satu sama lain.

Akhirnya solusi yang mereka pikirkan hanyalah hidup berpisah.
Kehidupan wanita di era kecanggihan teknologi saat ini disinyalir menjadi salah satu sebab banyaknya wanita yang menggugat cerai suaminya.

Luasnya pertemanan di dunia maya, komunikasi antar teman lama yang terbangun kembali, membuat wanita/istri membandingkan kehidupan pribadinya dengan teman-teman yang dia lihat setiap saat melalui gawai pintar selama terhubung dengan internet.

Tebersitlah dalam dirinya untuk menuntut nafkah lebih kepada suaminya di luar kemampuan suaminya untuk memberi.

Ketika suaminya tidak dapat memenuhi permintaannya, dia menggugat suaminya dan mengatakan tidak ada kecocokan di antara mereka.

Begitu pula dunia kerja yang terbuka seluas-luasnya untuk wanita. Menjadikan wanita merasa lebih bisa daripada suaminya, apalagi jika gaji yang ia dapatkan dari tempatnya bekerja lebih besar dari nafkah yang ia dapatkan dari suaminya.

Kembali Pada Niat Pernikahan

Wanita muslimah yang memiliki kewajiban taat kepada suami selagi suami tetap menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya, haruslah mengembalikan guncangan apapun yang ia dapatkan dalam rumah tangganya pada niat awal pernikahan.

Tetap memposisikan suaminya sebagai qowwam (pemimpin) walaupun karirnya lebih tinggi dibanding suaminya.

“Laki-laki adalah qowwam/pemimpin atas wanita karena sebab kelebihan-kelebihan yang Allah karuniakan pada sebagian mereka atas sebagian yang lain (wanita) dan karena apa-apa yang mereka nafkahkan dari harta-harta mereka. Maka wanita-wanita sholihah adalah wanita yang taat, menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaga mereka…” (QS. An-Nisa: 34).

Suami adalah qowwam. Demikian syariat Islam menempatkan kaum laki-laki dan mewajibkan wanita yang menjadi istrinya untuk taat dan menjaga dirinya dan harta suaminya ketika suaminya tidak ada.

Di antara bentuk ketaatan itu adalah qona’ah, menerima dan merasa cukup atas pemberian suami.

Syariat Islam mewajibkan kepada para suami untuk memberikan nafkah harta kepada istri, sebagaimana firman Allah di QS. Attaghobun:7.

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”

Jangan Sampai Kufur

Jika setiap istri/wanita muslimah memahami dengan benar apa yang telah Allah SWT tetapkan dalam menjalani kehidupan rumah tangga, niscaya tidak ada yang berani menggugat cerai suaminya hanya karena faktor ekonomi.

Lebih-lebih lagi jika takut pada peringatan Rosulullah SAW kepada wanita-wanita (istri) yang tidak pandai bersyukur atas pemberian suami.

Dari Abdullah bin Abbas RA, dia berkata. Rosulullah SAW bersabda, “Aku diperlihatkan neraka, sama sekali aku belum pernah diperlihatkan pemandangan seperti itu sebelumnya, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.

Mereka bertanya, ‘karena sebab apa wahai Rosulullah?’ ‘Karena kekufuran mereka.’

Mereka bertanya, ‘apakah karena mereka kufur kepada Allah?’ Beliau menjawab, ‘mereka mengufuri keluarga (suami) dan juga mengufuri kebaikan.

Jika salah seorang kalian berbuat baik kepada salah satu mereka suatu waktu, kemudian mereka mendapatkan satu kesalahan darimu, dia akan mengatakan, aku tidak pernah melihat kebaikanmu sekalipun.” (HR. Al-Bukhori).

Mari sama-sama mengevaluasi diri, seberapa sering kita, sebagai istri mengatakan kepada suami “Anda tidak pernah membelikan saya ini dan itu,” atau kalimat-kalimat semisalnya.

Jangan sampai kalimat-kalimat itu menjadi penyebab terhalangnya surga untuk kita. Ma’aadzallah.*

Back to top button