crossorigin="anonymous"> Inilah Tahapan Pengasuhan Anak Usia Dini Yang Sering Diabaikan
AnakBeritaOrangtua

Inilah Tahapan Pengasuhan Anak Usia Dini yang Sering Diabaikan

JAKARTA – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan hal penting dan mendasar dalam proses tumbuh kembang anak, yakni usia sejak ia lahir hingga 6 tahun. Umumnya masa ini disebut dengan golden age atau usia keemasan.

Sebagai usia terbaik maka sudah barang tentu masa PAUD tidak boleh diabaikan, apalagi dilewatkan begitu saja tanpa berupaya meninggalkan suatu kesan yang melekat bagi anak.

Nah, diantara problem kepengasuhan anak usia dini yang acapkali terabaikan adalah bagaimana memperlakukan anak sebagaimana usianya.

Tidak sedikit orangtua, yang, karena ketidaktahuannya, menjadikan anak di usia belianya tersebut layaknya orang dewasa dengan memberlakukan pola hukuman.

Padahal di usia tersebut, sang anak belum cukup mampu mengerti tentang hukuman. Alih alih menghukum, kebutuhan anak di usia tersebut adalah pemahaman dan bagaimana memahamkannya tentang sesuatu.

Praktisi parenting, Kurniawan Eddy Santosa, mengatakan usia emas anak tersebut mestinya tidak membebaninya dengan sesuatu yang sebenarnya belum mampu dicernanya, seperti memberlakukan hukuman ketika ia melakukan kesalahan.

“Untuk anak PAUD, kurangi berpikir bahwa kalau salah harus dihukum. Lebih baik berikan pengertian dengan gerakan, intonasi suara dan contoh,” kata Kurniawan dalam obrolan gawai, Kamis (16/6/2022).

Kendati demikian, Kurniawan menjelaskan, berkenaan dengan hukuman pada tahapan usia tersebut cukup diberikan pemahaman berkenaan dengan hukum sebab akibat. Misalnya, jikalau tidak mandi, akan bau dan banyak kuman. Kalau makanya tak buru-buru, nasinya tidak berceceran. Dan lain sebagainya.

Alih alih memberlakukan hukuman setiap ada kesalahan yang dilakukan anak, Kurniawan menyarankan agar orangtua lebih baik mendampingi bagaimana seharusnya bertindak.

Kurniawan pun membeberkan dampak negatif yang akan terjadi apabila anak usia dini mengerjakan sesuatu karena dihukum, yakni pelan pelan akan tertanam ke alam bawah sadar anak dan meyakininya (believe) bahwa “kalau aku salah aku akan sembunyi”, “kalau aku salah akan berbohong”, atau “kalau aku salah, orang lain juga ikut salah”.

Oleh karenanya, menurut Kurniawan, orangtua harus menjadi teladan dalam semua aspek baik ketika ia tengah berada di rumah dan dimana saja. Ketahuilah, anak mulai meniru orang dewasa bahkan sejak dari bayi.

Dan, ini yang penting, ternyata anak itu sangat berbakat sekali meniru apa saja dari orangtuanya. Bahkan cara bersikap dan mentalitas pun bisa menurun dari orangtua kepada anak, seperti perilaku antisosial.

Dalam sebuah riset yang dilakukan Virginia Polytechnic Institute and State University, didapati temuan menarik bahwa orangtua yang menunjukkan perilaku antisosial akan menciptakan anak-anak dengan perilaku antisosial pula.

Kurniawan pun menekankan hendaknya kita orangtua menjadi contoh yang baik agar kelak akan menjadi bagian karakter anak anak kita. “Teladan untuk anak usia dini adalah keutamaan,” tandasnya.

FIQIH ULYANA

Related Articles

Back to top button