crossorigin="anonymous"> Inilah Rahasia Menggapai Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah
KeseharianRelationshipRumah

Inilah Rahasia Menggapai Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Oleh Bustanul Arifin*

DIANTARA misi dari pernikahan adalah ta’sisul usrah alias membentuk keluarga. Sebuah ibadah yang tidak mudah dan membutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh.

Selain berat, pernikahan juga dibarengi dengan kenikmatan baik lahir maupun batin, jiwa dan raga. Jika pasangan itu baik, maka kelak mereka akan masuk surga. Sehingga, dikatakan berat tapi nikmat.

Allah SWT berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S: Ar-Rum: 21)

Ayat ini menegaskan bahwa pernikahan merupakan salah satu tanda ke-Esaan dan kebesaran Allah SWT. Artinya, ketika seseorang menikah berarti kita sedang menyaksikan ayat-ayat-Nya atau Allah SWT sedang menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada kita. Sebab, hanya Allah SWT yang tidak memiliki pasangan dan tidak butuh sandaran. Bermakna juga, selain Allah semuanya butuh pasangan.

Dalam ayat di atas, ketika menjelaskan pasangan Allah SWT menggunakan kata “kholaqo” yang artinya menciptakan. Ini menunjukkan bahwa, jodoh kita merupakan hak prerogatif Allah SWT tanpa campur tangan manusia. Kata kerja yang memiliki dua masdar, yakni kholqun yang bersifat sementara, parsial dan fisik. Kedua adalah khuluqun, yang berarti immaterial, langgeng dan psikis.

Keduanya merupakan dua dimensi yang saling melengkapi satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Selain dua hal tersebut, hal yang lebih penting lagi adalah akhlaq, jamak dari kata khuluqun. Karena inti dari berkeluarga adalah akhlaq mulia itu sendiri dan dibawa hingga ke akhirat nanti.

Selanjutnya adalah “Litaskunu”, agar kalian merasa tenteram. Kata ini juga memiliki dua makna, fisik dan non fisik. Bisa bermakna rumah atau tempat tinggal, bisa juga ketenangan jiwa yang hal ini datangnya dari Allah SWT.

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Q.S: Al-Fath: 4)

Berbeda dengan jodoh, ketika menjelaskan tentang keluarga sakinah Allah menggunakan kata ja’ala, bukan kholaqo. Ini bermakna, untuk mendapatkan ketenangan atau menjadi keluarga sakinah harus memiliki kemauan dan usaha yang maksimal.

Selain sakinah, mawaddah dan rahmah juga perlu ada upaya untuk mendapatkannya. Menggauli istri dengan baik dan atau istri melayani suami dengan baik maka, keduanya akan mendapatkan mawaddah (kasih) dan juga rahmah (sayang).

Oleh karenanya, membentuk keluarga ideal berarti menjadi keluarga samawa (sakinah, mawaddah dan rahmah). Ketiganya hanya bisa diwujudkan dengan doa serta upaya dari kedua mempelai.

Berdoa berarti melibatkan Allah dalam setiap derap langkah kehidupan, sedangkan ikhtiar adalah mencurahkan seluruh energi untuk berkhidmat, menjalankan perintah, menunaikan hak dan kewajiban masing-masing pasangan.

BUSTANUL ARIFIN, penulis adalah ayah muda dari seorang anak, saat ini tinggal di Bandung dan menjadi pendidik sekaligus kepala sekolah SMP Hidayatullah Bandung Barat.

Related Articles

Back to top button