Inilah 5 Tips Bangun Etos Kerja dan Disiplin Anak Sejak Dini

Keluargapedia.com – Ketika kita terperanjat terhadap kesuksesan seseorang, terkadang kekaguman itu berlanjut ingin mengetahui apa rahasia keberhasilannya. Sebenarnya, ada dua rahasia yang menonjol dari orang yang dianggap sukses. Pertama, etos kerja. Dan, yang kedua, kedisiplinan.

Keduanya, etos kerja dan disiplin, adalah sesuatu yang dibibit, ditanam dan harus dipupuk terus menerus. Ia bertumbuh seiring waktu, persis seperti membangun rumah kaca yang membutuhkan ketelitian, kehatia-hatian dan juga perhatian. Kepengasuhan di masa masa usia emas (0-10 tahun) adalah waktu dimana momentum penanaman itu berlangsung sangat eksploratif, yang menstimulasi semua bagian inderawinya.

etos kerja disiplin
Ilustrasi. Sumber: Pixabay

Namun, di waktu yang sama, salah satu problem terbesar yang dihadapi keluarga terutama ayah bunda hari ini adalah masalah kepengasuhan. Inti dari kepengasuhan adalah bagaimana menumbuhkan etos kerja kedisiplinan dan terbangunnya kesadaran anak akan kediriaannya.

Etos kerja misalnya, ia tidak ujub ujub ada pada diri anak lalu tumbuh begitu saja secara ilmiah. Sebagaimana kedisiplinan, etos kerja harus dirangsang sejak dini. Proses itu tak sebatas memantiknya saja, namun harus dirangsang terus menerus.

Upaya membangkitkan berbagai potensi yang sudah ada dalam diri anak tersebut amat perlu selalu disegar-segarkan, hingga ia merasuk menjadi watak dan mendarah daging pada diri anak. Jika sudah dipupuk sejak dini, maka akan melekat hingga ia dewasa, maka itulah yang disebut dengan habit atau kebiasaan.

Habit berbeda dengan kemauan. Ia adalah kehendak mekanis yang lahir dari pengulangan pegulangan dan pembiasaan sejak kecil. Nah, upaya itulah yang harus kita -sebagai orangtua- lakukan. Habit tidak saja dipengaruhi lingkungan dan apa yang kita lakukan, namun juga sangat ditunjang oleh apa yang kita katakan dan apa yang kemudian sampai pada pendengaran anak.

Terkadang, dalam moment tertentu, kita memaksa anak berjanji agar tidak mengulangi keburukan yang dia lakukan. Kita memposisikan mereka sebagai terdakwa atas kesalahan kesalahan yang dia lakukan. Padahal, mendesaknya untuk berjanji atau bersumpah sangatlah konsekuensial, karena, ketika hal sumpah itu terucapkan, maka orangtua menjadi bagian tak terpisahkan dari klausul itu.

Baca Juga :   Game Redeem Code FF dan Realitas Ketahanan Keluarga

Memang, mendidik anak dan membimbingnya terus menerus merupakan pekerjaan yang panjang dan amat melelahkan. Harus dilakukan sepanjang tahun seumur hidup. Namun, jika ia dibarengi dengan ketulusan dan keluhuran budi semata mata, insya Allah, akan berbuah manis pada saatnya nanti.

Tugas kepengasuhan untuk menjadikan anak memiliki etos kerja dan kebiasaan disiplin tidak saja sulit namun juga mensyaratkan adanya kesabaran yang ekstra. Dengan mengetahui 5 tips sederhana berikut, ayah bunda dapat melakukan pekerjaan ini dengan mudah.

1. Orangtua Harus Menjadi Teladan Utama

Keteladanan adalah guru terbaik. Demikianlah kata pepatah. Seribu kata atau ucapan tak ada artinya jika tanpa contoh. Orangtua harus meneladankan kebaikan kepada anak mulai dari hal yang amat sederhana seperti membuang sampah pada tongnya, bangun tidur tepat waktu, menepati janji, menyimpan barang pada tempatnya dan hal hal sederhana lainnya.

Terlalu banyak orang sukses karena terinspirasi teladan dari orangtuanya. Kita kenal Marie Kondo, misalnya, yang ternyata kesuksesannya amat dipengaruhi oleh sang ayah yang selalu memberi teladan dalam disiplin dan etos kerja. Orangtua memang harus menjadi teladan utama dalam etos kerja dan kedisiplinan, karena ia yang 24 berinteraksi dengan anaknya, bukan keluarga lain.

2. Merutinkan Menyampaikan Kalimat Motivasi

Jangan berfikir anak Anda masih kecil sehingga tak perlu menyampaikan motivasi padanya. Pandangan ini jelas keliru. Justru sejak dini, tepatnya pada masa golden age, pesan motivatif itu akan sangat melekat dalam alam bawah sadar anak. Saat ini mungkin ia hanya mengangguk tak menimpali. Namun, ketika ia dewasa, apa yang pernah Anda sampaikan padanya akan diingatnya, yang, mungkin Anda pun akan terperanjat betapa melekatnya pesan pesan Anda di masa lalu.

Baca Juga :   Memahami Fitrah Anak dan Hal yang Mempengaruhinya

Kita bisa belajar dari mendiang Rektor Universitas Paramadina Prof Firmanzah, seorang dari keluarga miskin. Kekayaannya hanyalah motivasi yang selalu diberikan ibunya yang buta huruf. Dari sanalah etos kerjanya bangkit, kedisiplinannya tumbuh menjadi habit, hingga beliau berhasil menjadi figur, yang, sebetulnya, tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

3. Mengilustrasikan Contoh Figur sesuai Usia Anak

Sesekali Anda perlu menghadirkan figur hero yang dianggap layak menjadi contoh anak dalam etos kerja dan disiplin. Tentu anak Anda tak ketinggalan mengikuti film karakter hero di televisi atau gadgetnya. Idealnya figur itu adalah diri Anda sendiri sebagai orangtua. Namun, sayangnya, tidak semua orangtua cukup memadai untuk hal itu.

Maka, cobalah sekali waktu hadirkan di benaknya si Ejen Ali yang selalu datang tepat waktu saat dibutuhkan. Atau hadirkan tokoh kekinian atau masa lampau yang punya karakter disiplin dan memiliki semangat kerja tinggi. Tidak sedikit orang orang yang berhasil menggapai cita citanya karena terinspirasi karakter dalam film atau figur yang dikenalnya, tentu tulisan ini akan menjadi sangat panjang kalau harus merincinya satu persatu.

4. Membuat Kesepakatan dan Mematuhi Konsekuensinya

Anak anak memang lugu tapi jangan anggap enteng kepoloson ini. Dibalik keluguannya, ingatan anak sangat kuat, termasuk ketika ayah bunda menjanjikan sesuatu padanya. Sekali Anda berjanji, maka selamanya akan diingatnya. Maka ketika Anda berjanji membelikan sesuatu sepulang bekerja, maka pastikan tunaikan janji Anda tersebut karena disitulah anak belajar tentang konsistensi.

Melalui medium ini pula, ayah bunda bisa membuat semacam lembar perjanjian kesepakatan dengan anak dalam rangka membangun etos kerja dan disiplinnya. Misalnya buat kesepakatan hanya bermain gadget pada hari libur atau pada jam dan dengan durasi tertentu. Jika melangggar, maka ada konsekuensi yang harus diterima. Nah, itu harus tertuang jelas dalam lembar kesepakatan dan berusaha menjalankan dengan tertip dan disiplin.

Baca Juga :   Memahami Fitrah Anak dan Hal yang Mempengaruhinya

5. Menyalurkan Minatnya dengan Benar

Setiap anak itu istimewa karena memiliki skil bawaannya masing masing. Tak ada anak yang lahir tanpa bakat tertentu. Dan, ia akan semakin terampil jika kemampuanya tersebut terus diasah dan diarahkan dengan baik. Namun, sebagai orangtua, Anda tidak boleh otoriter memaksakan hanya skil tertentu pada anak. Salurkan minat anak dengan baik tanpa harus membatasinya pada hal hal yang memang menjadi karunia dari Tuhan untuknya, dengan dibekali pemahaman yang benar tentang fitrah anak itu sendiri.

Nah, disinilah puncaknya. Semua kiat di atas harus setemalian dengan fitrah. Karena, etos kerja dan kedisplinan yang terbangun tanpa arah yang jelas maka hanya berakibat kesiasiaan. Mengapa ini penting, karena, menurut KH Mohammad Fauzil Adhim, pemahaman tentang fitrah sesuai tuntunan yang benar akan mengantar kepada jalan yanng benar yang tidak menyelisihi kebenaran dan dapat menjaga fithrah anak-anak kita. Mengenai “fitrah” ini perlu ditegaskan di sini karena inilah sesungguhnya kunci pamungkasnya dan agar tidak membelokkannya seolah-olah fitrah itu adalah bakat atau bawaan semata.

Kita diingatkan oleh KH Mohammad Fauzil Adhim bahwa setiap hal yang bersifat bawaan saja dapat menggelincirkan manusia jika hanya menggunakan logika untuk memahami, meskipun maksudnya baik. Apalagi jika semenjak awal sudah keluar jauh dari maknanya.⁣ Hal ini semakin menunjukkan pentingnya kita memahami “al-fithrah” dengan benar, tepat dan lurus sesuai dengan petunjuk yang sangat luas terhampar.

Selamat menjadi orangtua yang baik untuk anak anak kita. Semoga segala usaha kita untuk menjaga tumbuh kembang anak agar kelak menjadi manusia yang penuh manfaat mendapatkan keberkahan. Aaamiin. (ybh/kpd)

Recommended For You

About the Author: Ain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 − one =