More
    BerandaTuturIni Nasihat Dahsyat Ayah Kepadaku

    Ini Nasihat Dahsyat Ayah Kepadaku

    Ayah adalah seorang pahlawan. Dia adalah sosok laki-laki yang tidak pernah menampakkan rasa sayangnya, rasa pedulinya. Namun ayah selalu memberikan nasihat kepadaku. Nasihat yang dahsyat. Dan, inilah nasihat ayah kepadaku.

    Ayah selalu menjadi penguat bagi kami. Dia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya.

    Ayah selalu berpesan “jangan pernah menyerah dan putus asa sebelum mencoba, teruslah mencoba dan mencoba walau banyak kegagalan.”

    Sebuah nasihat sederhana dari ayahku yang tak hidup layaknya profesor atau pun doktor. Ia hanya seorang petani yang akrab dengan padi, jagung dan apapun yang ia tanam.

    Selalu Memberi Nasihat

    Ayah selalu memberi nasihat, khususnya ketika ingin beranjak dari rumah melanjutkan pendidikan ke luar daerah.

    “Jangan pernah sombong dan tidak mau tahu, dan harus tetap diingat sesuatu itu harus dimulai dari diri kita sendiri dulu, baru kita menyeru pada orang lain.

    Banyak-banyak membaca buku, jangan terlalu banyak bercanda. Karena didalam menuntut ilmu itu dibutuhkan kefokusan dan keseriusan.”

    Menguatkan Perantauan Belajar

    Hal yang sangat berkesan adalah ketika ayah memberi nasihatnya kelak menjadi penguat tatkala jauh dari keluarga dan hidup berasrama dan memiliki banyak teman dari berbagai daerah.

    Nasihatnya adalah “Ketika banyak orang yang menjauhimu, banyak teman yang tidak suka denganmu. Jangan pernah jadikan itu sebagai masalah besar.

    Ketika hal itu terjadi maka ingatlah, ada teman yang tidak akan pernah meninggalkanmu yang akan selalu setia denganmu ia adalah Alquran.

    Alquran adalah sebaik-baik teman. Dia akan menemanimu di dunia maupun di akhirat kelak.”

    Itu benar-benar membuatku sangat kuat ketika menghadapi dinamika hidup dalam belajar di sebuah Perguruan Tinggi di Balikpapan.

    Senjata

    Masya Allah, pesan ini begitu sangat berkesan ketika merasakan diri ini paling berbeda dengan teman-teman. Seakan sebuah senjata.

    Terkadang merasa berbeda pemikiran sehingga kerap tidak nyambung. Terutama tatkala mereka sibuk dengan urusan masing-masing.

    Di lain waktu melihat mereka bisa saling akrab satu sama lain dan terlihat bahagia, sedang saya merasa kesepian dalam kesendirian.

    Sudah sewajarnya apabila saya mengharapkan sesosok teman untuk menemani dan menghiburku di saat sedih.

    Bersahabat dengan Alquran

    Mungkinkah saya mendapatkan teman sesuai harapanku, teman dekat yang akan memahami segala kondisiku.

    Saya pun teringat akan nasihat ayah, yang kemudian membuatku sadar akan apa yang saya butuhkan.

    Akhirnya berusaha mendekatinya agar bisa lebih mengenalnya, walau belum sepenuhnya tetapi selalu menjadi solusi akan berbagai masalah yang kuhadapi.

    Ia selalu memberi ketenangan, menghibur tatkala sendiri, tidak akan beranjak dari sisi dan menjadi obat atas rasa sakit yang mendera.

    Benar kata ayah, bahwa Alquran akan menjadi teman setia yang tidak akan pernah mengecewakan siapa saja yang dekat dengannya.

    Membaca kalamullah memberikan energi berbeda, membaca ayat-ayat-Nya yang terhimpun dalam al-Qur’an menghadirkan ketenangan saat jiwa terasa gersang dan butuh pengakuan makhluk-Nya.

    Terimakasih ayah. Nasihatmu benar-benar hidup dalam perjalananku meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu.*

    Saominasari (Mahasiswi STIS Hidayatullah) dan disunting oleh Mas Imam Nawawi

    Must Read

    spot_img