More
    BerandaAnakAnak Bunda Nakal Jangan Panik Ya

    Anak Bunda Nakal Jangan Panik Ya

    TIDAK sedikit orangtua terutama ibu sangat khawatir ketika anaknya tampak nakal. Apalagi ketika lingkungan memberikan stigma itu. Sebagian ada yang sedih ada juga yang kemudian panik. Tetapi sebenarnya langkah yang tepat adalah para Bunda jangan panik.

    Muhammad Fauzil Adhim berpendapat bahwa memang ada anak yang nakal. Tetapi jangan kemudian panik dan berkata bahwa sebenarnya tidak ada anak nakal.

    Penulis parenting itu menegaskan bahwa kita tak boleh menutup mata atau menyangkal bahwa kenakalan itu ada.

    “Sesungguhnya, eufimisme hanya menyulitkan kita menemukan akar masalahnya. Memahami setiap sebab kenakalan akan memudahkan kita menentukan langkah yang tepat sesuai dengan sebab kenakalannya.”

    Kenali Sebab

    Dengan begitu maka langkah yang paling penting bagi para Ayah Bunda ketika melihat anak nakal adalah mengenali sebabnya.

    Misalnya anak tidak mau mau menuruti perintah orang tua untuk membuang sampah ke tong sampah. Kemudian tanpa mencari tahu Bunda langsung memberikan vonis bawa anak itu tidak mendengarkan perintah.

    Tetapi setelah dicek ternyata sang anak tertidur. Bukankah itu berarti Bunda telah membuat satu penilaian yang sangat keliru?

    Contoh itu hanya ingin menegaskan bahwa mengenali sebab sangatlah penting.

    Ketika anak tiba-tiba dengan suara lantang mengatakan kalimat yang tidak patut. Tugas Bunda adalah mencari tahu dari mana anak itu mendengar kemudian mengapa menirukannya. Bukan malah memvonis anak-anak dengan stigma negatif.

    Barangkali anak tidak tahu Apa makna dari kata-kata yang ia tirukan dari yang pernah ia dengar. Jika fakta itu berhasil diketahui maka tugas bunda lah menjelaskan.

    Kalau ini menjadi satu pola yang ajeg pada diri Bunda di dalam mendidik anak insya Allah kenakalan anak adalah sarana untuk menjadikan mereka semakin dewasa.

    Bersikap Lembut

    Ketika pola itu juga menjadi satu kebiasaan maka bunda akan bisa mendidik anak dengan sikap yang lembut.

    Lebih suka untuk memeluk dan mencium anak-anak. Dan akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak marah apalagi memukul.

    Rasulullah memberikan teladan soal itu.

    “Ada seorang badui mendatangi Rasulullah dan bertanya, ‘Apakah engkau mencium anak-anak kecil, sungguh kami tidak mencium?’ Maka beliau menjawab, ‘Apakah harus aku biarkan engkau agar Allah menghilangkan rasa kasih dan sayang dari hatimu?” (HR. Muslim).

    Dari Abu Hurairah r.a., ia menceritakan,

    “Nabi saw mencium Hasan bin Ali, dan di sisi beliau ada Al ‘Aqra bin Habits At-Tamimi. Lalu Al ’Aqra berkata kepada beliau, ‘Aku memiliki sepuluh orang anak dan aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Maka Rasulullah berkata, ‘Barangsiapa yang tidak penyayang, maka ia tidak akan disayang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Jadi apapun yang kita hadapi dari kondisi anak berusaha untuk lemah lembut, memahami perasaannya dan mendoakan yang terbaik.*

    Mas Imam Nawawi

    Must Read

    spot_img