crossorigin="anonymous"> 6 Kewajiban Istri Terhadap Suami Menurut Imam Ghazali
Relationship

6 Kewajiban Istri Terhadap Suami Menurut Imam Ghazali

Suami dan istri adalah dua keadaan atau posisi yang syariah mengatur sedemikian rupa. Di antara keduanya tidak boleh ada yang berbuat zalim.

Bahkan suami yang baik kata Nabi adalah orang yang baik dan bahkan paling baik terhadap istrinya.

Namun, seorang istri juga mengemban kewajiban di dalam berumahtangga.

Berikut adalah apa yang diuraikan oleh Immam Ghazali dalam Kitab Monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin.

Pertama

Kewajiban pertama ialah tidak menolak ajakan suami untuk bersenang-senang.

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita meninggal dunia, dan suaminya merasa ridha kepadanya, niscaya ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi).

Kemudian Rasulullah SAW juga bersabda, “Apabila seorang wanita mengerjakan sholat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya an menaati suaminya, niscaya ia akan masuk ke surga Rabbnya.” (HR. Ibn Hibban).

Artinya, pintu kebaikan dan keutamaan seorang wanita dapat ditempuh dengan menjalankan kewajiban pertama, yakni taat dan tidak pernah menolak ajakan suami.

Kedua

Kewajiban kedua ialah memelihara kesucian dan menjaga rahasia suaminya, serta tidak meminta apa saja yang tidak perlu dan menjaga diri dari harta yang diharamkan yang didapat oleh suaminya.

Ketiga

Kewajiban ketiga adalah tidak memboroskan harta suaminya dan selalu menjaganya.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang istri memberi makan orang di rumah tanpa izin suaminya, kecuali makanan basah yang dikhawatirkan bususk (basi) jika disimpan.” (HR. Abu Dawud).

Keempat

Kewajiban keempat yakni hendaknya selalu berbuat baik dan menahan diri ketika suaminya pergi dan merasa bahagia ketika suaminya kembali di sampingnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang istri menyakiti perasaan suaminya, maka para bidadari (al-hurin al-in) di surga akan berkata, “Janganlah menyakitinya karena Allah SWT akan membinasakanmu. Sekarang ia (suami) bersamamu, akan tetapi mungkin ia akan segera meninggalkanmu, dan datang kepada kami.” (HR. Tirmidzi).

Kelima

Kewajiban kelima apabila suami meninggal dunia, maka jangan berkabung lebih dari empat bulan sepuluh hari.

“Tidak dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Pembalasan berkabung buat orang yang meninggal dunia lebih dari tiga hari, kecuali seorang istri yang berkabung karena kematian suaminya, maka ia boleh berkabung selama empat bulan sepuluh hari, serta harus tinggal di rumah suaminya sampai berakhir masa iddahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keenam

Kewajiban keenam ialah ia harus melakukan segala urusan rumah tangga yang berhubungan dengan fungsinya sebagai istri, sesuai dengan batas kemampuannya. Allahu a’lam.*

Mas Imam Nawawi

Related Articles

Back to top button