- Advertisement -Newspaper WordPress Theme
Relationship3 Langkah Bangun Romantisme Jarak Jauh

3 Langkah Bangun Romantisme Jarak Jauh

Manusia tidak bisa memungkiri bawa dalam sebagian hidupnya akan ada perjalanan. Entah dalam rangka ibadah, bisnis, atau pun pendidikan. Termasuk di dalamnya adalah perjalanan antara pasangan. Entah suami atau istri. Nah inilah 3 langkah membangun romantisme jarak jauh. Tepatnya ketika suami atau istri sedang dalam perjalanan beberapa hari.

Langkah Pertama

Berusahalah untuk memberikan sapaan walau sangat singkat. Hal ini akan memberikan kesan bahwa sang suami yang di dalam perjalanan selalu ingin memberikan kan kabar ar-rum bahwa dirinya dalam keadaan baik-baik saja.

Langkah ini memang terkesan sangat sederhana. Tetapi ketika dilakukan ini akan membuat istri di rumah merasa bahagia. Psikologinya akan memahami bahwa sang suami selalu ingin memberikan kesan bahwa jangan khawatir dan tetaplah berdoa untuk pasangan.

Langkah Kedua

Berdoalah untuk kebaikan keluarga. Sekalipun hal ini tidak diketahui oleh pasangan namun berdoa ketika dalam perjalanan merupakan satu amal yang sangat Rasulullah anjurkan.

Bahkan berdoa dalam perjalanan termasuk kategori doa yang oleh Allah akan dikabulkan. Oleh karena itu ketika suami atau istri di dalam perjalanan jangan lengah untuk disiplin dalam ibadah

Bahkan pada setiap sujud berdoalah agar keluarga kita diberkati, dirahmati, selalu dalam lindungan Allah subhanahu wa ta’ala.

Langkah Ketiga

Kalau ada waktu luang, walaupun hanya 5 menit. Cobalah untuk melakukan komunikasi langsung dengan telepon atau video call. Ini akan memberikan satu kepastian bahwa keadaan satu sama lain baik-baik saja.

Jangan lupa berkomunikasi juga dengan anak-anak. Tanyakan hal-hal yang membahagiakan anak-anak dan berikan mereka motivasi untuk menjadi lebih baik.

Romantis Selalu

Jadi perjalanan yang memisahkan sementara waktu antar pasangan bukanlah satu keadaan yang dapat mengurangi romantisme dalam keluarga.

Presto itu menjadi sarana penguat ikatan batin antara suami dan istri. Terlebih kalau perjalanan yang ditempuh merupakan satu kegiatan yang mulia, bermanfaat bagi masyarakat, dan tentu saja menjadi amal shaleh bagi keluarga.

Nabi Ibrahim bahkan meninggalkan anak dan istri dalam tempo yang begitu lama. Tetapi karena dasar dari perpisahan itu adalah karena Allah, maka antara suami dan istri tidak saling menuntut, tidak saling menyalahkan. Malah mereka berhasil melahirkan anak yang sangat luar biasa yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.*

Mas Imam Nawawi

Subscribe Today

GET EXCLUSIVE FULL ACCESS TO PREMIUM CONTENT

SUPPORT NONPROFIT JOURNALISM

EXPERT ANALYSIS OF AND EMERGING TRENDS IN CHILD WELFARE AND JUVENILE JUSTICE

TOPICAL VIDEO WEBINARS

Get unlimited access to our EXCLUSIVE Content and our archive of subscriber stories.

Exclusive content

- Advertisement -Newspaper WordPress Theme

Latest article

More article

- Advertisement -Newspaper WordPress Theme